Nasib Buruk Setelah Hijrah

Aku merupakan wanita mungkin yang paling lemah dan biasa-biasa saja datang dari pelosok Desa jauh dari keramean yang baru beberapa bulan ini memekarkan diri dari Ibu Kota karena ingin membuktikan pada semua orang kalu tanah kelahiran ku ini kaya akan hasil bumi dan alam tidak lain adalah Lombok Utara. Lombok Utara merupakan salah satu Daerah yang terkenal dengan tempat parawisata yang terkenal sampai ke Luar Negri turis lokal maupun Internasional kini datang berbondong-bondong demi menikmati indahnya panorama yang berada di Lombok Utara. Sebuah Pulau kecil yang berada di tengah laut tidak lain adalah Gili Trawangan, Gili Meno dan Senggigi yang memiliki pemandangan yang indah nan mempesona dan tidak kalah menarik lagi adalah Gunung Rinjani yang mempunyai segala cerita mitologi yang begitu kuat membuka jiwa yang terkatup, mengurai sejarah yang unik dari salah seorang putri penjaga gunung yang tertinggi di Lombok yaitu Dewi Anjani yang kini di sebut Gunung Rinjani. Untuk menjangkau tanah kelahiran membutuh kan waktu yang tidak sedikit dan penuh tantangan bila tidak sigap bisa jatuh ke dalam jurang yang dalamnya ratusan meter ke bawah. Tapi buat aku, itu hal yang biasa karena aku sudah terbiasa hidup di hutan belantara dengan melewati tebing yang tinggi dan curam.Sebagai anak Bangsa yang lahir di Desa terpecil, jauh dari keramaian. Aku berjanji kelak aku harus bisa menata tanah kelahiraku supaya lebih maju. Bertekad dari itu dan ke dua orang tua, aku datang jauh-jauh ke Ibu kota hanya untuk menuntut ilmu di salah satu universitas di Mataram mengambil jurusan kebidanan karena selama ini yang sering terjadi para ibu hamil yang melahirkan secara tradisional mengandalkan para dukun beranak dan membuat ramuan untuk minum tampa ada petunjuk dari dokter. “Ahhhh dokter” mereka tidak tau namanya dokter mereka hanya tau dukun beranak. Tidak terasa sudah 3 tahun berada di Mataram berjuang dan menggali ilmu sebanyak mungkin supaya bisa menghapus semua kebodohan yang selama ini mengikat masyaraka yang ada di sana .Tapi sayang, apa yang selama ini menjadi cita-cita ku tidak semulus dan semudah yang ku bayang kan, ternyata begitu banyak rintangan yang ku hadapi hingga kejadian sangat mengerikan menimpa ku. Ibarat ingin memeluk bulan namun gerhana yang ku dapat. Hari ini berat bagi ku untuk melangkah kan kaki dari tempat tidur jiwa ini amat sakit pikiran ku pun menerawan jauh namun suram ku lihat seolah tidak ada setitik cahaya yang menuntun ku untuk melangkah ke jalan yang lebih baik lagi. Aku merasa begitu hina, bodoh, rugi, dan merasa jijik sekali dengan diri ku sendiri. Apalagi mengingat kejadian satu minggu yang lalu jiwa ini seolah tak ingin hidup lagi di muka bumi ini tapi seandainya aku mengakhiri hidup ini, kapan desa ku lepas dari kebodohan yanng selama ini mengkar dan ibu-ibu akan selalu melahirkan scara tidak wajaar. Di rumah kontrakan ini aku merasa beberapa sosok bayangan terus melintas di depan ku sambil terdengar suara bayi menangis seolah ingin meminta keadilan terhadap ibu yang telah melahirkannya.”Tuhan” Aku selalu di hantui rasa takut dan bersalah mungkin bila aku tidak nekat melakukan aborsi mungkin semua ini tidak akan mengganggu ku akan tetapi aku tidak tau apa cerita selanjutnya kedepan mungkin aku akan tambah binggung. Sungguh kejam diriku, aku telah membunuh janin yang tak berdosa. Aku hanya bisa menyesali hidup ini dan enggan untuk menceritakan semua yang menimpa ku terhadap orang-orang yang ada di sekeliling khususnya ke dua orang tua yang selama ini berjuang keras sampai keringat menetes di kulit yang sudah mulai keriput demi menjadi seorang bidan. Ternyata benar apa yang di katakan kebanyakan orang bahawa perempuan adalah misteri. Apa yang membuat mereka tetap bertahan hidup dalam kondisi tak memungkinkanpun, terkadang misteri. Apakah itu bentuk ketidak berdayaan yang memaksa mereka untuk menerima penderitaan sebagai seorang perempuan atau ini sebuah bentuk ketidak berdayaan atau kebodohan seorang perempuan? Awalnya aku berpikir untuk memendam semua ini sendiri agar tidak seorang pun yang tau akan nasib buruk yang menimpa ku. Namun aku tidak sanggup sendirian menghadapinya sampai akhirnya aku pun minta tolong terhadap salah seorang teman awalnya dia menolak untuk membantu karena itu menyangkut nyawa antara hidup dan mati apa lagi dia paham betul tentang hukum karena dia mengambil jurusan hukum di salah satu universitas di Mataram juga. Tapi akhirnya dia bersedia membantu ku karena tidak tega melihat penderitan yang sungguh berat menimpakau. Penderitaan itu tidak hanya sampai di situ, derita yang kuhadapi tambah parah dari pihak kampus tidak mengizinkan ikut semester akhir semua itu gara-gara lelaki bejat yang telah memperkosa aku. Dan lelaki itu tidak lain adalah orang satu seperjuangan ketika masih duduk di bangku SMA sekaligus satu kampung dengan ku.

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

SIFAT WANITA DIJAMIN SYURGA

Kitab Permulaan Turunnya Wahyu

Jabatan dan Amanat