Jabatan dan Amanat
Jabatan dan Amanat
Oleh : Ahmad Gaos Habibi, S.Pd.I, tanggal, Jum’at 1/11/2013
إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ
وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ صَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَسَلَّمَ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا. أَمَّا بَعْدُ: أَيّهَا النَّاسُ أُوْصِيْكُمْ وَ نَفْسِي بِتَقْوَى اللهِ وَ طَاعَتِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ. قَالَ تَعَالَى: يَاأَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُمْ مُّسْلِمُوْنَ.
Maasyral Muslimin Rahimakumullah
Pada kesempatan mulia ini mari sama-sama kita tingkatkan keimanan dan ketakwaan kita. Mungkin di hari dan waktu lain kita cukup sulit untuk mengalokasikan waktu khusus dalam mengkondisikan keimanan kita, maka pada saat yang sangat mulia ini kita optimalkan untuk kembali kepada Allah Swt, untuk meningkatkan iman dan takwa kita.
Jamaah jum’at yang dimuliakan Allah
Godaan maha besar berupa wanita, seorang istri seorang pejabat tinggi di Mesir yang mengajak berbuat tidak senonoh pernah dihadapkan kepada Nabi Yusuf As. Namun ketahanan mental dan kesucian jiwa beliau, disamping petunjuk serta perlindungan Allah Swt, akhirnya bisa selamat dari godaan itu.
Perlindungan Allah yang diterima Nabi Yusuf As tersebut, lantaran sifat dan sikapnya yang cenderung shalih dan taat akan hak-hak Ilahiah. Sikap dan sifat Yusuf As itu pula yang menghantarkannya kegerbang kemuliaan dirinya didunia dan akhirat.
Kedudukan tinggi yang diberikan kepada Nabi Yusuf As adalah menteri keuangan. Beliau menjalankan tugasnya dengan dua modal kriteria, yaitu;pertama, hafidh (kecakapan menjaga), amanah, jujur dan dipercaya. Kedua, ‘alim (kemampuan intelektual), cerdik pandai, memiliki pengetahuan handal dalam menjalankan tugas-tugas. Allah SWT berfirman dalam QS. Yusuf: 55.
Berkata Yusuf: “Jadikanlah aku bendaharawan negara (Mesir); sesungguhnya aku adalah orang yang pandai menjaga lagi berpengetahuan”.
Dua sifat tersebut merupakan pilar penyangga kesuksesan dalam setiap pekerjaan Yusuf As. Perkataan beliau dalam ayat tersebut di atas tidak lain dalam rangka menegakkan kebenaran dan keadilan serta membantu mengatasi krisis yang melanda bangsa saat itu, disamping itu beliau memahami betul akan beratnya pangkat dan jabatan. Beliau memilih jabatan itu karena ketulusan hati dan kebersihan jiwa, bukan karena mencari popularitas diri atau menimbun kekayaan atau ambisi kekuasaan. Sebab ternyata dengan dua sifat itu, beliau mampu mengeluarkan negara dan bangsa dari krisis yang menyengsarakan. Lantaran itulah Allah tak segan-segan mamberikan kepadanya tamkin (posisi yang kuat) dalam sebuah pemerintahan.
Jamaah jum’at yang dimuliakan Allah
Jabatan dalam pandangan Islam bukanlah kehormatan, melainkan mas’uliyah (tanggung jawab) dan mandat yang berarti butuh pengorbanan bukan mumpung-isme (manipulasi kesempatan). Sebab tugas adalah amanat yang akan dipertanggungjawabkan, baik di dunia maupun di akhirat kelak, dihadapan Allah. Oleh karenanya setiap pemimpin ataupun pemegang amanat haruslah orang yang mempunyai dua sifat diatas; hafidzun dan ‘alim, yaitu sosok yang mampu menjaga kekayaan dan hasil bumi negara untuk kemaslahatan umat dan bangsa dan sekaligus mempunyai kemampuan memberdayakan sebanding dengan SDA dan SDM yang dimiliki.
Dalam Al-Quran surat At-Taubah ayat 128, Allah menjelaskan tentang sifat kepemimpinan Rasulullah Saw yang merupakan contoh bagi setiap orang yang diembani amanat memimpin bangsa dan negara.
Adapun sifat-sifat yang tersebut dalam ayat tadi adalah:
Pertama, ‘azizun ‘alaihi ma ‘anittum”, berat beban atas Rasul dari apa yang dirasakan umatnya. Beban yang dirasakan oleh rakyat hendaknya menjadi beban moral pemimpin bangsa sebagai rasa kepedulian yang mendalam terhadap berbagai permasalahan dan problematika bangsa. Ia senantiasa memikirkan nasib bangsa dan negara sebelum memikirkan diri, dan kelompoknya.
Kedua, “harisun ‘alaihim”, pemimpin yang menginginkan kebaikan bagi rakyat. Pemimpin yang baik adalah pemimpin yang mempunyai keinginan dan tekad yang kuat untuk mewujudkan kesejahteraan dan kemakmuran masyarakat, bukan sebaliknya, pemimpin yang memikirkan kemakmuran diri dan keluarga serta kroni-kroninya.
Ketiga, ”roufur rahim”, pemimpin yang santun dan kasih. Sifat rahmat (kasih sayang dan lemah lembut) hendaknya diwujudkan dalam sikap dan prilaku setiap muslim, sehingga seluruh alam bisa merasakan misi keislamannya. Setiap pemimpin pada level manapun, hendaknya berprilaku rahmat, kasih sayang, lemah lembut, baik pernyataan maupun sikapnya. Bukan sebaliknya, sikap dan pernyataannya membuat bingung, stres rakyat dan tidak menguntungkan.
Fenomena kekerasan, kerusuhan, keributan, baik di level elit politik maupun di level massa, sangat membutuhkan seorang pemimpin yang mempunyai kriteria diatas. Sehingga umat tidak terombang-ambing dalam ketidakmenentuan dan ambisi pribadi.
Kita berdo’a semoga Allah tidak memberikan kepemimpinan kepada seorang yang tidak merasa takut kepada Allah dan tidak mengasihi kita. Amin ya robbal alamin....
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، وَتَقَبَلَّ اللهُ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ، إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ.
Komentar
Posting Komentar